Tidak akan ada yang bisa menahan
perih di hati bila mengingat kelamnya masa lalu. Tertawa miris menginginkan itu
tak pernah terjadi. Menangis pedih menyesali waktu yang lama terlewati. Menutup
mata menginginkan semua ingatan hilang tak ingin menyisakan bekas.
Dia… sakit.
***
Tidak
ada yang menyadari bahwa dia memiliki luka terdalam. Tidak ada yang tahu
bagaimana caranya tetap kuat berdamai meredam luka yang tak pernah mengering
meski hari, bulan dan tahun sudah entah kesekian berapa kalinya berganti.
Dan…
Tidak
ada yang menyadari, cahaya dari netra cokelatnya mulai meredup.
***
Aku pasti bisa bahagia, aku
pas..ti bisa kan? tanyanya meragu.
Seseorang
yang tetap tegar disaat kesakitan silih berganti menghampiri harinya. Selalu
tertawa meski sering kali dia sadar bahwa jenis tawanya sekarang tak lagi sama.
Semuanya…
sakit.
Beban
berat berada di pikirannya, terus dan terus menggerogoti hingga tanpa ia sadari
pikiran kosong sering menakutinya.
Aku, tidak akan berakhir gila,
tuturnya pedih.
***
Hai masa depan, tolong janjikan
padaku satu kebahagian.
Hanya satu kebahagiaan, do’a yang
selalu sama dipanjatkannya.
Sering,
air mata itu terjatuh tanpa ia sadari.
Tanpa
isakan.
Menangis
dalam diam…. seorang diri.
Jika
ini adalah awal, aku tak mau berakhir dengan seperti ini.
Setidaknya..
……Biarkan aku tertawa lepas dan
tersenyum sebelum menutup mata.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar