Kamis, 25 Februari 2016

Deep

       Tidak akan ada yang bisa menahan perih di hati bila mengingat kelamnya masa lalu. Tertawa miris menginginkan itu tak pernah terjadi. Menangis pedih menyesali waktu yang lama terlewati. Menutup mata menginginkan semua ingatan hilang tak ingin menyisakan bekas.

Dia… sakit.


***

      Tidak ada yang menyadari bahwa dia memiliki luka terdalam. Tidak ada yang tahu bagaimana caranya tetap kuat berdamai meredam luka yang tak pernah mengering meski hari, bulan dan tahun sudah entah kesekian berapa kalinya berganti.

Dan…

Tidak ada yang menyadari, cahaya dari netra cokelatnya mulai meredup.

***

Aku pasti bisa bahagia, aku pas..ti bisa kan? tanyanya meragu.

Seseorang yang tetap tegar disaat kesakitan silih berganti menghampiri harinya. Selalu tertawa meski sering kali dia sadar bahwa jenis tawanya sekarang tak lagi sama.

Semuanya… sakit.

Beban berat berada di pikirannya, terus dan terus menggerogoti hingga tanpa ia sadari pikiran kosong sering menakutinya.

Aku, tidak akan berakhir gila, tuturnya pedih.


***

Hai masa depan, tolong janjikan padaku satu kebahagian.
Hanya satu kebahagiaan, do’a yang selalu sama dipanjatkannya.

Sering, air mata itu terjatuh tanpa ia sadari.

Tanpa isakan.

Menangis dalam diam…. seorang diri.


Jika ini adalah awal, aku tak mau berakhir dengan seperti ini.

Setidaknya..


……Biarkan aku tertawa lepas dan tersenyum  sebelum menutup mata.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar