Senin, 12 Oktober 2015

Kakek Tua

Aku berjalan terburu-buru, langkah kakiku beradu dengan mulusnya aspal jalanan. Meski begitu, aku tetap memperhatikan orang-orang di sekitarku.

Aku melihat kakek tua itu lagi.

Berjalan di panasnya terik matahari sambil menenteng sepeda tuanya. Mataku gatal ingin memperhatikan lebih jauh lagi, ada pisang dan buah-buahan lain bergantungan di sepeda itu. Bukan hanya sekali dua kali aku tidak sengaja berpapasan dengan kakek tua itu. Aku ingat sekali, ketika waktu aku menyuruh saudaraku menjemputku di tempat biasa aku menunggu...

Saat itu hujan gerimis...

Aku melihatnya, lagi. Menenteng sepeda dengan buah-buahan bergantung di stang sepeda dan dia memakai kantongan kresek untuk menutupi kepalanya agar terhindar dari tetesan air hujan.

Aku mulai bertanya-tanya.
Apakah kakek itu tidak memiliki keluarga?
Mengapa bahkan sudah hujan begini, dia masih tetap berjalan menjajakan dagangan buahnya?

Sejujurnya, aku ingin mendekatinya, menanyakan hal yang berkecamuk dalam pikiranku.
Namun, aku tidak berani..
Aku takut kakek itu risih karena secara tidak langsung aku menanyakan hal privacy kepadanya. Makanya, ketika aku bertemu secara tidak sengaja, aku hanya memperhatikan dalam diam dan aku memotretnya.
tapi sayang sekali, hasilnya tak pernah sesuai yang kuinginkan.

Minggu pagi kemarin, ketika aku menemani kakakku membeli sesuatu di pasar.
Aku melihat kakek tua itu memegang beberapa sisir buah pisang.
Mungkin itu untuk barang dagangannya, pikirku,

Dan yah, kakek tua itu..

.....seorang diri, tanpa teman.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar